BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi
Wesampayana untuk Maharaja
Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan
permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang
berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain
merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja
Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah
Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya,
Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.
1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk:
1.Mengetahui siapa pengarang cerita mahabarata.
2.Mengetahui secara ringkas cerita Mahabarata
3.Mampumengetahui silsilah keluarga Bharata
4.Mampu memahami bagian-bagian yang terdapat dalam cerita Mahabarata.
5.Mampu mengetahui pengaruh cerita Mahabarata pada bangsa Indonesia.
6.Mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita Mahabarata.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KITAB SABHAPARWA
Sabhaparwa adalah buku kedua Mahabharata.
Buku ini menceritakan alasan mengapa sang Pandawa Lima ketika diasingkan dan
harus masuk ke hutan serta tinggal di sana selama 12 tahun dan menyamar selama
1 tahun. Di dalam buku ini diceritakan bagaimana mereka berjudi dan kalah dari Duryodana.
>>Niat licik Duryodana dan Sangkuni
Semenjak pulang dari Indraprastha, Duryodana
sering termenung memikirkan usaha untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan
yang ada di Indraprastha. Ia ingin sekali mendapatkan harta dan istana milik
Pandawa. Namun ia bingung bagaimana cara mendapatkannya. Terlintas dalam benak
Duryodana untuk menggempur Pandawa, namun dicegah oleh Sangkuni.
Sangkuni berkata, “Aku tahu Yudistira suka
bermain dadu, namun ia tidak tahu cara bermain dadu dengan akal-akalan.
Sementara aku adalah rajanya main dadu dengan akal-akalan. Untuk itu, undanglah
dia, ajaklah main dadu. Nantinya, akulah yang bermain dadu atas nama anda.
Dengan kelicikanku, tentu dia akan kalah bermain dadu denganku. Dengan
demikian, anda akan dapat memiliki apa yang anda impikan”.
Duryodana tersenyum lega mendengar saran
pamannya. Bersama Sangkuni, mereka mengajukan niat tersebut kepada Dretarastra
untuk mengundang Pandawa main dadu. Duryodana juga menceritakan sikapnya yang
iri dengan kemewahan Pandawa. Dretarastra ingin mempertimbangkan niat puteranya
tersebut kepada Widura, namun karena mendapat hasutan dari Duryodana dan
Sangkuni, maka Dretarastra menyetujuinya tanpa pertimbangan Widura.
>>Pandawa dan Korawa main Dadu
Dretarastra menyiapkan arena judi di Hastinapura,
dan setelah selesai ia mengutus Widura untuk mengundang Pandawa bermain dadu di
Hastinapura. Yudistira sebagai kakak para Pandawa, menyanggupi undangan
tersebut. dengan disertai para saudaranya beserta istri dan pengawal, Yudistira
berangkat menuju Hastinapura. Sesampainya di Hastinapura, rombongan mereka
disambut dengan ramah oleh Duryodana. Mereka beristirahat di sana selama satu
hari, kemudian menuju ke arena perjudian.
Yudistira berkata, “Kakanda Prabu, berjudi
sebetulanya tidak baik. Bahkan menurut para orang bijak, berjudi sebaiknya
dihindari karena sering terjadi tipu-menipu sesama lawan”. Setelah mendengar
perkataan Yudistira, Sangkuni menjawab, “Maaf paduka Prabu. Saya kira jika anda
berjudi dengan Duryodana tidak ada jeleknya, sebab kalian masih bersaudara.
Apabila paduka yang menang, maka kekayaan Duryodana tidaklah hilang sia-sia.
Begitu pula jika Duryodana menang, maka kekayaan paduka tidaklah hilang sia-sia
karena masih berada di tangan saudara. Untuk itu, apa jeleknya jika rencana ini
kita jalankan?”
Yudistira yang senang main dadu akhirnya terkena rayuan Sangkuni. Maka
permainan dadu pun dimulai. Yudistira heran kepada Duryodana yang diwakilkan
oleh Sangkuni, sebab dalam berjudi tidak lazim kalau diwakilkan. Sangkuni yang
berlidah tajam, sekali lagi merayu Yudistira. Yudistira pun termakan rayuan
Sangkuni.
Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, namun ia kalah. Kemudian ia
mempertaruhkan harta lagi, namun sekali lagi gagal. Begitu seterusnya sampai
hartanya habis dipakai sebagai taruhan. Setelah hartanya habis dipakai taruhan,
Yudistira mempertaruhkan prajuritnya, namun lagi-lagi ia gagal. Kemudian ia
mempertaruhkan kerajaannya, namun ia kalah lagi sehingga kerajaannya lenyap
ditelan dadu. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan,
Yudistira mempertaruhkan adik-adiknya. Sangkuni kaget, namun ia juga sebenarnya
senang. Berturut-turut Sahadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima dipertaruhkan, namun
mereka semua akhirnya menjadi milik Duryodana karena Yudistira kalah main dadu.
>>Dropadi dihina di muka umum
Harta, istana, kerajaan, prajurit, dan
saudara Yudistira akhirnya menjadi milik Duryodana. Yudistira yang tidak
memiliki apa-apa lagi, nekat mempertaruhkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia
kalah sehingga dirinya harus menjadi milik Duryodana. Sangkuni yang berlidah
tajam membujuk Yudistira untuk mempertaruhkan Dropadi. Karena termakan rayuan
Sangkuni, Yudistira mempertaruhkan istrinya, yaitu Dewi Dropadi. Banyak yang
tidak setuju dengan tindakan Yudistira, namun mereka semua membisu karena hak
ada pada Yudistira.
Duryodana mengutus Widura untuk menjemput Dropadi, namun Widura menolak
tindakan Duryodana yang licik tersebut. karena Widura menolak, Duryodana
mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi. Namun setelah para
pengawalnya tiba di tempat peristirahatan Dropadi, Dropadi menolak untuk datang
ke arena judi. Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk
menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana
yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Dropadi menangis dan menjerit-jerit
karena rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya
berkumpul.
Dengan menangis terisak-isak, Dropadi
berkata, “Sungguh saya tidak mengira kalau di Hastina kini telah kehilangan
banyak orang bijak. Buktinya, di antara sekian banyak orang, tidak ada seorang
pun yang melarang tindakan Dursasana yang asusila tersebut, ataukah, memang
semua orang di Hastina kini telah seperti Dursasana?”, ujar Dropadi kepada
semua orang yang hadir di balairung. Para orangtua yang mendengar perkataan
Dropadi tersebut tersayat hatinya, karena tersinggung dan malu.
Wikarna, salah satu Korawa yang masih
memiliki belas kasihan kepada Dropadi, berkata, “Tuan-Tuan sekalian yang saya
hormati! Karena di antara Tuan-Tuan tidak ada yang menanggapi peristiwa ini,
maka perkenankanlah saya mengutarakan isi hati saya. Pertama, saya tahu bahwa
Prabu Yudistira kalah bermain dadu karena terkena tipu muslihat paman Sangkuni!
Kedua, karena Prabu Yudistira kalah memperteruhkan Dewi Dropadi, maka ia telah
kehilangan kebebasannya. Maka dari itu, taruhan Sang Prabu yang berupa Dewi
Dropadi tidak sah!”
Para hadirin yang mendengar perkataan Wikarna
merasa lega hatinya. Namun, Karna tidak setuju dengan Wikarna. Karna berkata,
“Hei Wikarna! Sungguh keterlaluan kau ini. Di ruangan ini banyak orang-orang
yang lebih tua daripada kau! Baliau semuanya tentu tidak lebih bodoh daripada
kau! Jika memang tidak sah, tentu mereka melarang. Mengapa kau berani memberi
pelajaran kepada beliau semua? Lagipula, mungkin memang nasib Dropadi seperti
ini karena kutukan Dewa. cobalah bayangkan, pernahkah kau melihat wanita
bersuami sampai lima orang?”
Mendengar perkataan Karna, Wikarna diam dan
membisu. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya beserta istrinya diminta
untuk menanggalkan bajunya, namun hanya Dropadi yang menolak. Dursasana yang
berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi. Dropadi berdo’a kepada para
Dewa agar dirinya diselamatkan. Sri Kresna mendengar do’a Dropadi. Secepatnya
ia menolong Dropadi secara gaib. Sri Kresna mengulur kain yang dikenakan
Dropadi, sementara Dursasana yang tidak mengetahuinya menarik kain yang
dikenakan Dropadi. Hal tersebut menyebabkan usaha Dursasana menelanjangi
Dropadi tidak berhasil. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan
Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di
Indraprastha.
>>Pandawa dibuang ke tengah hutan
Melihat perbuatan Dursasana yang asusila,
Bima bersumpah kelak dalam Bharatayuddha ia akan merobek dada Dursasana dan
meminum darahnya. Setelah bersumpah, terdengarlah lolongan anjing dan serigala,
tanda bahwa malapetaka akan terjadi. Dretarastra mengetahui firasat buruk yang
akan menimpa keturunannya, maka ia segera mengambil kebijaksanaan. Ia memanggil
Pandawa beserta Dropadi.
Dretarastra berkata, “O Yudistira, engkau
tidak bersalah. Karena itu, segala sesuatu yang menjadi milikmu, kini
kukembalikan lagi kepadamu. Ma’afkanlah saudara-saudaramu yang telah
berkelakuan gegabah. Sekarang, pulanglah ke Indraprastha”.
Setelah mendapat pengampunan dari
Dretarastra, Pandawa beserta istrinya mohon diri. Duryodana kecewa, ia
menyalahkan perbuatan ayahnya yang mengembalikan harta Yudistira. Dengan
berbagai dalih, Duryodana menghasut ayahnya. Karena Dretarastra berhati lemah,
maka dengan mudah sekali ia dihasut, maka sekali lagi ia mengizinkan rencana
jahat anaknya. Duryodana menyuruh utusan agar memanggil kembali Pandawa ke
istana untuk bermain dadu. Kali ini, taruhannya adalah siapa yang kalah harus
mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, dan setelah masa pengasingan
berakhir (yaitu pada tahun ke-13), yang kalah harus menyamar selama 1 tahun.
Pada tahun yang ke-14, barulah boleh kembali ke istana.
Sebagai kaum ksatria, Pandawa tidak menolak
undangan Duryodana untuk yang kedua kalinya tersebut. Sekali lagi, Pandawa
kalah. Sesuai dengan perjanjian yang sah, maka Pandawa beserta istrinya
mengasingkan diri ke hutan, hidup dalam masa pembuangan selama 12 tahun.
Setelah itu menyamar selama satu tahun. Setelah masa penyamaran, maka para
Pandawa kembali lagi ke istana untuk memperoleh kerajaannya.
2.2 Niliai Nilai Yang Terkandung Dalam Cerita
Mahabrata
Nilai Kesetiaan / Satya
Cerita Mahabharata mengandung lima nilai
kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai
kesetiaan itu adalah : Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam
berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan.
Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak
terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya
setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah
diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima,
satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya
merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya
diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah
dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur
sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.
Nilai Pendidikan
Sistem Pendidikan yang di terapkan dalam
cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang
disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut
memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya.
Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat
bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang
senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan
mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras
menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.
Nilai Yajna / Koban Suci dan Keiklasan
Bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita
Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna
mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang
tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud
tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah
pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).
Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah
usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran
(satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu
pengetahuan (spiritual)".
Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan
digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai
dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus
memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti
yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan
mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang
yang sedikit pengetahuannya "
Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)
Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik (
jinanendriyas) dan lima organ motorik ( karmendriyas), dan sebuah
"antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik
dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan
langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari
pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa
merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong,
pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik.
Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan
satu bagian lagi adalah kesepuluh organ. Yang mendorong terjadinya aktivitas
adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan
bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka
tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.
Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha"
atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga
terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana),
Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada
sepuluh.
Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka"
(conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan
sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg
buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat
bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10
arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra
melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.
Bagaimana dengan Pandawa
Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.,
yaitu :
Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra
muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir
tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan
"kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra
manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
Bima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada
cakra anahata.
Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi
peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi
kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah
Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran
dinamakan Yudhisthira".
Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan
yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan
Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa
menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.
Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah
wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia
sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang
Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"
Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai
jiwa, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan
ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti
filosofis dari Mahabharata.
Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang
menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya
"bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah
dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kitab Sabhaparwa merupakan kitab kedua dari
seri Astadasaparwa. Kitab Sabhaparwa menceritakan kisah para Korawa yang
mencari akal untuk melenyapkan para
Pandawa. Atas siasat licik
Sangkuni, Duryodana mengajak para Pandawa main dadu. Taruhannya adalah
harta, istana, kerajaan, prajurit, sampai diri mereka sendiri. Dalam permainan
yang telah disetel dengan sedemikian rupa tersebut, para Pandawa kalah. Dalam
kisah tersebut juga diceritakan bahwa
Dropadi ingin ditelanjangi oleh
Dursasana karena menolak untuk menyerahkan pakaiannya. Atas bantuan Sri
Kresna , Dropadi berhasil diselamatkan. Pandawa yang sudah kalah wajib untuk
menyerahkan segala hartanya, namun berkat pengampunan dari
Dretarastra, para Pandawa mendapatkan kebebasannya kembali. Tetapi
karena siasat Duryodana yang licik, perjudian dilakukan sekali lagi. Kali ini
taruhannya adalah siapa yang kalah harus keluar dari kerajaannya dan
mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun. Pada tahun yang ke-13, yang kalah
harus hidup dalam penyamaran selama 1 tahun. Pada tahun yang ke-14, yang kalah
berhak kembali ke kerajaannya. Dalam pertandingan tersebut, para Pandawa kalah
sehingga terpaksa mereka harus meinggalkan kerajaannya.



0 komentar:
Posting Komentar